Bos EO Sukses Berbisnis Kuliner

posted in: Uncategorized | 0
MURI: Tari Naposo Bulung yang diikuti seluruh pelajar se-Kota Medan, sekaligus meraih rekor MURI. Kegiatan besutan EO Trans Kreasindo ini merupakah salah satu event Dinas Pariwisata yang sukses diselenggarkaan pada tahun 2010.

TAK semua orang berani mengambil resiko dalam berbisnis. Terlebih lagi untuk seseorang yang sudah sukses membangun bisnisnya selama puluhan tahun. Didit Mahadi Kadar, pria berusia hampir setengah abad ini menunjukkan eksistensinya dan mampu melebarkan sayap dalam pengembangan bisnis.

Didit, sapaan akrab ayah dua putri ini, mengawali karirnya sebagai penyiar radio. Selama kuliah di D3 Sekolah Tinggi Ilmu Keuangan dan Perbankan (Stikubank) Semarang, ia aktif sebagai mahasiswa yang mengerjakan berbagai acara. Jadi menyusun kegiatan dan mengatur tim sudah menjadi hal biasa baginya.

“Saya tergabung di Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) waktu masih kuliah dulu. Saya belajar mengenai Event Organizer secara otodidak,” aku pria berusia 45 tahun ini kepada Analisa.

Setelah penyiar, ia pun melanjutkan pekerjaan di bidang hiburan menjadi Entertaint Manager di Planet Cafe di salah satu plaza di Medan pada 1996 silam. Berawal di tahun yang sama, ia mulai terjun dan bekerja di dunia Event Organizer (EO). Karirnya di mulai di PT Debindo, salah satu EO terbesar di Indonesia saat ini.

“Saya masuk EO pada tahun 1996 dan menjadi Regional Manager Sumut di PT Debindo. Waktu itu, Debindo ada cabangnya di sini, tetapi kurang bagus , jadinya tutup. Kemudian posisi saya berubah menjadi Travelling Manager di perusahaan yang sama. Tugasnya khusus menangani kegiatan-kegiatan di luar kota yang tidak ada cabangnya,” kata bapak berkaca mata ini.

Ia melakoni pekerjaan di perusahaan EO tersebut selama delapan tahun hingga 2004. Kemudian, ia sempat bekerja selama dua tahun menjadi General Manager di Star Indonesia hingga tahun 2006. Karena ia sangat mencintai pekerjaannya di bidang EO, ia pun mendirikan perusahaan sendiri bernama PT Trans Kreasindo Production. Ia menekuni pekerjaan sebagai direktur di perusahaan yang dirintisnya mulai tahun 2006 hingga sekarang. Kegiatan pertama yang diterimanya adalah Grand Opening Funland di Citra Garden.

Seminggu setelah kegiatan pertama, ia mendapat tawaran peluncuran salah satu merk mobil di Medan. Dari situ, ia terus menerima tawaran acara berikutnya. “Saya konsepnya sudah ada calender event dalam setahun. Jadi sudah ada target yang ingin dicapai. Bahkan di awal dulu, ada kegiatan yang saya buat sendiri, tujuannya sekaligus ajang promosi. Contohnya kegiatan otomotif, pameran pendidikan dan pameran perumahan. Saya jual stand ke klien,” terangnya.

EO-nya berjalan stabil hingga usia ke 22 tahun saat ini. Event yang dikerjakannya sudah tak terhitung lagi. Keadaan tersebut membuatnya merasa tertantang untuk melakukan hal baru dalam berbisnis. Ia pun melebarkan usahanya berbisnis kuliner. Saat ini, ia mulai fokus dengan usaha barunya dan sudah membangun dua kafe di tempat berbeda di Kota Medan.

“Saya ingin keluar dari zona aman dan menantang diri. Ketika ada hal baru yang kita urus, ide kita keluar terus dan tertantang. Kalau di EO saya sudah menangani banyak event mulai dari yang kecil hingga besar. Presiden berapa kali datang ke Medan dan Sumut, itu EO saya yang dipanggil,” cerita suami dari Nita itu.

Katanya, EO-nya sudah menangani hampir semua kegiatan yang diselenggarakan di Sumatera Utara. Mulai dari pameran, konser, acara pemerintah hingga swasta. Ia bersama timnya melakukan roadshow di beberapa kota, yaitu Makassar, Palembang, Sumbar dari acara yang diselenggarakan Singapore Tourism World. Tetapi sekarang, seiring perkembangan ekonomi, perusahaannya hanya menerima tawaran kegiatan dari dalam kota di Medan dan Sumut saja.

Saat ini, Didit memliki 16 karyawan yang bekerja di kantor, lima orang di lapangan (workshop) dan ada beberapa karyawan lepas. Hal itu karena dibutuhkan pada saat acara tertentu saja. Jangan ditanya mengenai omzet, pria yang menikah pada 1997 ini menikmati omzet dari usahanya mulai dari Rp75 juta hingga miliaran rupiah. Kondisi tersebut tergantung kegiatan yang diterima setiap bulannya.

“Saya memang ingin sesuatu yang menantang. EO dan kuliner kan masih berhubungan. Kalau di bisnis kuliner ini, saya tidak terjun langsung seperti di EO. Kita ada koki, jadi saya hanya tes makanan dan atur manajemennya saja. Saya libatkan istri karena dia pintar masak. Terkadang menu-menu khusus itu ide dari istri saya. Saya terdukung dengan kehadirannya,” beber pria ini yang saat ditemui berada di salah satu kafenya.

Pengembangan Usaha

Ia menjelaskan berbisnis kuliner bukanlah beralih, tetapi pengembangan usaha dari yang sudah ada sebelumnya. Tantangan yang ia rasakan mampu membuatnya membuka dua kafe dalam setahun ini. Bahkan tak tanggung-tanggung, saat ini ia juga sedang merencanakan pembangunan kafenya yang ketiga. Menurutnya, tidak ada yang ditakutkan dalam berbisnis, adanya pesaing akan membuat persaingan lebih sehat dan lebih bagus untuk perkembangan bisnis. Setiap kafe sudah punya pelanggan dan pasarnya masing-masing. Kalau berkualitas, pelanggan akan kembali ke kafe tersebut.

“Saya buka bisnis makanan, karena saat ini di Medan sedang tren. Kita lihat sekarang ini sudah seperti gaya hidup. Kafe banyak dikunjungi perempuan untuk arisan dan kumpul-kumpul. Saya prinsipnya tidak akan membuka cabang, karena nuansa di setiap tempat berbeda-beda,” ucap pengusaha sukses ini.

Saat ini, di kafe pertama ia sudah memiliki 50 karyawan. Untuk kafe kedua masih 12 orang pekerja. Setiap kafe memiliki ciri khas tersendiri. Sajian musik ada di kafe pertama setiap harinya. Sedangkan di kafe kedua hanya Jumat dan Sabtu.

Mantan penyiar radio ini menuturkan, jika ingin melihat usaha yang dirintis berjalan atau tidak, yakni dalam waktu tiga bulan. “Bisnis itu bisa berjalan setelah dilihat dalam tiga bulan perkembangannya. Semua itu sebenarnya kan tergantung promosi, kita bisa gunakan sosial media (sosmed). Melalui teman-teman di sosmed seperti Facebook atau melalui teman-teman dekat,” ujarnya.

Intinya jika ingin memulai usaha, semua harus dipikirkan dan direncanakan secara matang. Modal pun harus cukup. “Kan tak mungkin tanpa perencanaan. Misalnya jualan hari ini terus habis semua uangnya, nunggu hasil penjualan baru belanja. Jadi semua harus diprediksikan. Kadang yang direncanakan saja tak berhasil, apalagi yang tak direncanakan,” tuturnya.

Di kesempatan itu, Didit menyampaikan tips agar bisa berbisnis sukses. Menurutnya, jika ingin sukses, tirulah orang-orang yang berhasil. “Jika kita meniru orang yang berhasil, otak kita akan berpikir bagaimana kiat dan usaha orang tersebut hingga usahanya berhasil. Kita harus berusaha, berani mencoba dan yakin. Terlebih jika tak memiliki dasar di bidang bisnis. Harus terus belajar agar tahu apa saja yang dibutuhkan untuk membangun bisnis,” katanya.

Didit mengatakan dahulu ia belajar secara otodidak. Tapi ia yakin dan terus berusaha dan belajar keras. Dari pekerjaannya sebagai penyiar di sebuah kantor radio di Semarang awal tahun 1990 an, ia mendapat ilmu tentang bagaimana mengatur dan menyusun sebuah acara. Maklum, karena memang pada saat itu belum ada EO seperti sekarang.

“Berbekal itulah saya memiliki ilmu dan pengetahuan tentang merancang sebuah acara hingga memutuskan untuk berani merintis usaha di bidang EO sejak tahun 2006 silam,” jelasnya.

Didit merasa bersyukur dengan kegigihan dan perjuangannya dulu, kini ia bisa mengecap kehidupan yang lebih baik. Ia sudah bisa memiliki rumah sendiri, kantor sendiri, menunaikan ibadah haji bersama istri dan ke depannya akan membuka kafe sendiri agar tak menyewa bangunan milik orang lain.

“Sekarang kan kafenya masih nyewa bangunan milik orang lain, harapannya semoga nanti bisa punya kafe dan bangunan sendiri. Ke depan juga ada rencana untuk memulai bisnis di bidang penyewaan sound system dan multimedia. Alhamdulillah, untuk rezeki yang diberikan Allah SWT saat ini. Semoga ke depannya bisnis bisa berjalan lebih baik lagi, anak-anak sehat, rumah tangga langgeng dan bisa memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak. Kuncinya, apapun keadaan yang kita alami, tetaplah bersyukur agar hidup bahagia,” pungkasnya.

Leave a Reply