Membuat yang Tidak Menjadi Sesuatu Menjadi Sesuatu

posted in: Uncategorized | 0

PT Trans Kreasindo Production adalah milik Didit Mahadi Kadar yang didirikannya pada tahun 2006. Bergerak di bidang jasa mice organizer, event organizer, decoration&art, dan event equipment rental. Sebelum PT Trans Kreasindo Production berdiri, pria yang akrab dipanggil Didit ini hanyalah karyawan biasa yang makan gaji.

Namun selang beberapa lama, dia punya pemikiran untuk mendirikan usaha sendiri. Dasar dari pemikirannya adalah ingin mandiri dan bisa mengekspresikan apa yang dipikirkannya. Mengawali bisnisnya, Didit hanya punya dua orang karyawan dan selebihnya dia mengerjakannya sendiri.

“Kalau berdiri sendiri kan kita bisa mengekspresikan apa yang kita pikirkan, apa yang ingin kita wujudkan, konsep apa yang kita tawarkan. Tapi kalau kerja sama orangkan nggak bisa begitu,” katanya kepada MedanBisnis beberapa waktu lalu saat ditemui di Grand Aston, Jalan Balai Kota Medan.

Berkat usaha dan kerja keras Didit, ditambah sudah punya jaringan di mana link-link jaringan tersebut sudah diperkuatnya, maka PT Trans Kreasindo Production (TKP) yang berada di Jalan Asrama, Komplek Ruko Bumi Asri, Blok C No. 53, Medan ini berjalan kian mantap hingga sekarang bersama dengan 25 orang karyawan tetapnya.

History perjalanan usahanya tidak sebagaimana orang lain pada umumnya yang membutuhkan proses jatuh bangun.

Direktur PT TKP ini malah mengaku usahanya berjalan begitu saja seperti air mengalir. Karena memang sebelumnya dia sudah menguasai bidang yang dijalankannya ini sejak tahun 1995-2000, ketika bekerja di Debindo Cabang Medan. Di sinilah Didit mengetahui tentang bidang promosi, pameran, event, dan sebagainya.

Setelah itu Didit bekerja bersama teman-temannya tanpa menjalin kemitraan, dan di tahun 2002-2005 dia menjadi GM Star Indonesia.

Diakuinya, terjun di dunia bisnis kreatif ini penuh dengan tantangan dan selalu tertantang. Karena ini bukanlah bidang pekerjaan atau profesi yang tetap, melainkan berpacu pada konsep yang dinamis, harus melihat perkembangan-perkembangan dunia usaha, tren, apa yang sedang dimintai, dan lain-lainnya.
“Bergerak di bidang ini harus banyak belajar dan melihat dinamika yang ada secara global.

Banyak juga customer kita, permintaan-permintaan dari Pineng yang mau buat pameran di Medan, jadi pasar kita tersebar luas,” tutur pria yang juga menjabat Director Badan Promosi Pariwisata Daerah Sumatera Utara ini.

Jadi, dia bilang, trik menjalankan bisnis ini adalah tetap dan terus kreatif, jeli melihat pasar, dan membuat konsep-konsep inovatif.

Alasannya sederhana, sebab dia ingin membuat sesuatu yang standar menjadi tidak standar. Karena itulah dia namakan motto perusahaannya “Membuat yang tidak menjadi sesuatu, menjadi sesuatu”.

Malah sampai pencitraan perusahaan, target market klien mau seperti apa, konsepnya bagaimana, itu harus diaplikasikan dari konsep-konsep yang mereka miliki hingga menjadi suatu kegiatan.

Misal, bagaimana dia membuat pelaksanaan pameran UKM yang tadinya bukanlah sesuatu namun ketika dipamerkan di tempat yang pas dan didekorasi dengan cara yang pas maka akan menjadi sesuatu. Harga juga akan menjadi lebih baik dan orang akan lebih tertarik.

“Penempatan lokasi, penempatan display, dan sebagainya dalam pameran akan menjadi sesuatu kalau ditempatkan dengan baik.

Tapi kalau kita sembarangan ya tidak menjadi sesuatu, orang akan melihatnya biasa aja,” ucap pria yang pernah menangani beberapa event untuk presiden seperti Hari Koperasi, Kesetiakawanan Nasional yang dihadiri SBY, dan event-event besar lainnya.

Berbagai Event di Sumut
Didit yang tidak pernah sekedar coba-coba atau aji mumpung dalam menjalankan bisnisnya ini telah membuktikan bahwa beberapa event di Sumut telah dia tangani, baik dengan pemerintah maupun swasta. Namun yang menjadi kebanggaannya, setiap event yang dipercayakan padanya selalu sukses.

Beberapa event yang sukses ditanganinya di antaranya adalah gebyar akbar produk ekonomi kreatif pilihan yang dikemas dalam Pameran Promosi Produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang digelar di Atrium Plaza Medan pada Desember 2009. Event ini diramaikan oleh 36 stan dari 40 peserta UMKM di Kota Medan.

Ada juga pameran dan atraksi budaya, Sumut Gempar (Gema Pariwisata) yang digelar pada November 2009 di Lapangan Merdeka Medan, yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumut dalam rangka memperingati Hari Pariwisata Sedunia 2009.

Pada event tersebut Didit dipercaya sebagai pelaksana event organizer. Tujuan event ini untuk mengembangkan potensi budaya sekaligus destinasi berbagai tujuan objek pariwisata. Jadi selama event berlangsung ditampilkanlah berbagai kebudayaan multi etnik di Sumut dan lagu-lagu etnik budaya yang diharapkan mampu menggairahkan pariwisata di Sumut.

Guna menyukseskan penyelenggaran event pariwisata ini, kata Didit, Pemko Medan membantu kelancaran dan partisipasi dengan melibatkan seluruh kecamatan di Kota Medan.

Sumut Gempar 2009, jelasnya, dikonsep semeriah mungkin dengan menampilkan potensi kebudayaan dan pariwisata Sumut. Untuk itu pihak pelaksana mempersiapkan berbagai kegiatan selama event berlangsung.

Kegiatan tersebut diantaranya, karnaval budaya amazing North Sumatera & Parade marching band yang diikuti sekitar 5.000-6.000 personel, festival tari multietnik Sumut kategori umum, festival baca puisi tingkat SMP, lomba melukis tingkat SMA, festival band, serta festival seni anak TK dan SD.

Ada juga pagelaran pentas seni pelajar se-Kota Medan, sesuai dengan program Dinas Pendidikan Kota Medan dalam rangka mengangkat kompetensi pelajar di bidang seni, yang dikombinasikan dengan acara launching motto, jargon, mars, dan website pendidikan Kota Medan di Grand Palladium Mall. Event ini berlangsung sesuai dengan harapannya, khususnya seluruh pihak dan Dinas Pendidikan Kota Medan dalam rangka menyosialisasikan motto pendidikan Medan, yakni PRIMA (Prestasi, Beriman & Intergritas, Mandiri).

Selain itu, Festival Budaya Sumatera Utara yang digelar pada 11-13 September 2014 lalu di Merdeka Walk Medan. Penyelenggarannya, adalah Dinas Pariwisata Sumut yang bekerjasama dengan PT Trans Kreasindo Production. Acara ini menampilkan tarian zapin kreasi Melayu dari 5 kabupaten/kota, yakni Medan,Binjai, Deliserdang, Langkat, dan Sergei.

Pagelaran ini tidak hanya menampilkan tarian, tapi juga peragaan busana dengan menggunakan kain tradisonal Sumut seperti tenun ulos, songket, batik motif Sumut, dan fasion Urban.

Tidak hanya itu, pada festival ini juga ada hiburan, seperti etnis budaya Sumut, karnaval budaya, dan artis Nominasi AFI 2014. Ini adalah beberapa dari event atau kegiatan yang pernah ditangani Didit.

Tentunya masih banyak lagi event-event yang terlaksana sukses di tangannya serta para stafnya.

(Sumber: Medan Bisnis)

Leave a Reply